Jenis-jenis Nasionalisme


Nation (bangsa) berasal dari bahasa Yunani, nasci, yang berarti dilahirkan. Nasionalisme merupakan fenomena yang kompleks, dipengarui oleh faktor budaya, politik dan psikologis, secara budaya bangsa merupakan sekompok orang yd diikat oleh kesamaan bahasa, agama, sejarah dan tradisi. Naun begitu mereka masih mentolerir heterogenitas pada level tertentu. secara politik, bangsa merupakan kelompok orang mengidentifikasikan dirinya sebagai sebuah komunitas politik. dicirikan dengan keinginan untuk membentuk negara atau sekurangnya memiliki kesadaran sebagai civic society. Secara psikologis, merupakan seklompok orang yang memberikan loyalitasnya terhadap komunitas dalam bentuk patriotism.

Dalam politik nasionalisme memiliki beberapa manifestasi yakni

  1. Nasionalisme liberal
  2. Nasionalisme konservatif
  3. Nasionalisme ekspansionis
  4. Nasionalisme anti-kolonial

Nasionalisme liberal berakar dari pemikiran liberal klasik Eropa yang muncul sejak revolusi Prancis. Revolusi tersebut menumbuhkan keasdaran tentang perlunya perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan nasional serta proses unifikasi yang mensyarakan konstitusi untuk membatasi pemerintah. Ini mempengaruhi terbentuknya negara-negara baru di Eropa yang didasari oleh kesamaan etnis. Seperti Unifikasi Italia oleh Guesepp Mazzini (1805-1872) serta terbebasnya negara Amerika Latin dari Spanyol.

Nasionalisme liberal memiliki asumsi bahwa umatmanusia secara alamiah terbagi dalam banyak bangsa yang memiliki identitas berbeda. Bangsa merupakan komunitas organic yang memiliki kesetaraan denga bansa lain. Tidak ada ketentuan yang menyatakan bahwa bangsa tertentus ebagai kelas penguasa semetara yang lain tidak. Dalam pandangan liberal setiap bangsa memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri (self-determination) untuk membentuk komunitas politik (nation-state).

Prinsip penentuan nasib sendiri dan keseteraan ini diterapkan oleh Wodrow Wilson, Presiden AS, dalam perjanjian Versailles 1919. Dalam pidatonya yang dikenal dengan “14 pilar”, Wilson menata ulang wilayah politik di Eropa. Wilson berusaha memecah imperium Eropa (Austria, Jerman, dan Turki) menjadi negara-negara yang lebih kecil. Dia memandang bahwa bangsa Yugoslavia, Polandia dan Chezh merupakan bangsa tersendiri yang mempunyai hak untuk mendirikan negara.

Nasionalisme konervatif berkembang belakangan setelah nasionalisme liberal, meskipun lebih dulu muncul disbanding liberal. Nasionalisme liberal bangsa sebagai subversive dan ancaman. Kecendurngan dari konservatif adalah membentuk imperium yang bersifat monarki dan militeristik. Menginginkan sebuah bangsa yang integral atau lebih dikenal denga pan-nasionalisme. Ini dicontohkan oleh Otto van Bismarck (penguasa Prusia) yang menginginkan Prusia sebagai pemimpin seluruh wilayah Jerman. Begitu juga yang dilakukan oleh Tsar Alexander III yang dikenal dengan gagasan Pan-Slavis.

Karena bangsa dianggap sebagai sebuah ancaman, kelompok konservatif lebih mendukung terbentuknya sebuah negara-bangsa terlebih dahulu dari pada pembentukan bangsa (nation-building). Hal ini bertujuan agar loyalitas bisa diberikan kepada institusi politik sehingga menghindari terbentuknya loyalitas terhadap bangsa.

Nasionalisme ekspansionis ditandai dengan karakternya yang agresif, militeristik dan ekspansionis. Merupakan antithesis erhadap prinsip kesetaraan dan penentuan nasib sendiri dalam nasionalisme liberal. Nasionalisme ini memanfaatkan antusiasme massa sebagai bangsa unggul. Pada abad 19, pandangan ini banyak mempengaruhi negara-negara Eropa  yang mengaggap mereka sebagai bangsa pilihan yang berhak untuk menguasai Asia dan Afrika.

Pandangan mengenai bangsa unggul pertama kali diperkenalkan oleh Nicolas Chauvin, prajurit Prancis pada masa Napoleon. Chauvin mengajarkan pandangan irasional mengenai superioritas atau dominasi bangsa tertentu atau yang lebih dikenal dengan chauvinism. Chauvinism ini dikembangkan oleh Adolf Hitler untuk membentuk teori tentang keunggulan ras Arya. Sehingga Jerman kemudian muncul sebagai negara ekspansionis pada masa Perang Dunia II

Ekspansionis memiliki pandangan yang bersifat ultranasionalis, dimana bangsa merupakan segalanya. Individu tidak memiliki arti apa-apa kecuali jika memberikan loyalitas bagi kejayaan bangsa. Sifat ultranasionalis ini muncul sebagai akibat keterasingan, isolasi dan  ketidak berdayaan. Kondisi ini memaksa mereka untuk berbangga diri dalam artian sempit serta berusaha menjadi lebih unggul disbanding yang lain.

Nasionalisme anti-kolonial muncul sebagai reaksi terhadap kolonialisme Eropa di Asia Afrika. Benih-benihnya muncl pada awal abad 20 dan baru mendapatkan momentumnya setelah Perang Dunia II. China merdeka (1949) setelah delapan tahun berjuang melawan pendudukan Jepang. Indonesia mendapat pengakuan pada 1949 setelah tiga tahun perlawanan menolak kehadiran kembali Belanda. Prancis terpaksa hengkang dari Vietnam pada 1954 setelah timbul perlawanan bersenjata. Perlawanan bersenjata yang muncul di Asia Tenggara menginspirasi negara-negara Afrika sehingga di sana juga muncul gerakan pembebasan. Gerakan ini dipelopori oleh Nkrumah di Ghana, Azikiwe di Nigeria, Julius Nyere di Tanzania dan Hasting Banda di Malawi. Gerakan ini semakin kuat di akhir 1950an dan mulai membuahkan hasi pada dekade 1960an.

Sebenarnya nasionalisme anti-kolonial meniru nasinalisme liberal dimana mereka mengadopsi konse kesetaraan dan penentuan nasib sendiri. Namun kebanyakan gerakan pembebasan ini justru lebih banyak mengambil ideology sosialis terutama Marxism-Leninisme. Karena yang menjadi konsern perjuangan mereka adalah memutus mata rantai sub-ordinatif dengan negara industry Eropa. Mereka ingin membentuk solidaritas kelas negara tertindas untuk menghadapi negara kapitalis.

Namun sejak dekade 1970an, Islam mulai mengambil alih ideology sosialis. Revolusi Iran 1979 merupakan bukti pertama keberhasilan Islam mengambil alih politik. proses islamisasi politik juga berlangsung di Pakistan dan Sudan. Sementara di negara Mesir dan Algeria, kelompok Islamis lebih bergerak sebagai gerakan moral.

referensi: Andrew Heywood, Politics, 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s