Perbedaan Salafi dan Salafi Jihadi


Oleh: Debi Harmanza

Maraknya tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama agama (Islam) telah memunculkan stigma negative terhadap orang-orang yang mencurahkan perhatiannya terhadap Islam. Orang-orang yang menggunakan sorban dan berjenggot biasanya diidentikan dengan terorisme. apalagi ditambah dengan maraknya aktifitas terorisme yang kebetulan pelakunya memang orang yang berpenampilan demikian.

Biasanya yang menjadi korban dari stigma negative ini adalah orang-orang yang benar-benar mencurahkan dirinya bagi Islam dengan cara-cara damai.

Kesalahan terutama disebabkan media yang secara salah menggambarkan kelompok-kelompok Islam. Sesungguhnya ada berbagai kelompok Islam yang memiliki karakteristik yang khas bahkan saling bertentangan satu sama lain. Menyamakan berbagai kelompok ini sebagai sebuah fenomena tunggal merupakan kesalahan.

Dalam tulisan ini dipaparkan beberapa perbedaan tersebut sehingga jelas adanya dikotomi kelompok-kelompok Islam.

Salah satu aliran (mainstream) ajaran Islam adalah salafi. Salafi merupakan cara pandang dalam menyikap permasalahan dari sudut pandang Islam. Secara umum bersifat puritan dan orthodox. Menolak pandangan-pandangan dan konsep-konsep dari Barat.

Kata salafi berasal dari kata salafis salih (generasi awal yang shaleh). Dari katanya kita tahu bahwa kelompok ini menjadikan generasi awal Islam sebagai rujukan utama dalam mewujudkan peradaban Islam.

Beberapa karakter salafi adalah mereka memusatkan kegiatan mereka pada penyebaran Islam. Mereka cenderung menghindari kegiatan politik, bahkan mencela kelompok-kelompok politik yang suka membawa agama. Karena fokus pada penyebaran agama Islam, dalam pendidikan mereka sangat menekankan pada kemampuan bahasa Arab. Meskipun demikian pemahaman mereka terhadap Al-Quran, dan Hadist cenderung bersifat lateral dan dogmatis. Salafi lebih menekankan pada pembentukan pribadi-pribadi yang salih. Pembinaan lebih banyak pada pemurnian akidah, keimanan, dan tauhid.

Meskipun menghindari kegiatan politik bukan berarti mereka tidak memiliki pandangan politik. Mereka memiliki cita-cita untuk mewujudkan umat, komunitas kaum beriman. Mereka menyusun komunitas ini dalam sebuah jamaat yang saling terhubung dan bersifat piramida.

Mereka tidak mengakui adanya nasionalisme dan negara-bangsa. Tapi mereka menerima pemerintahan muslim dari kelompok manapun. Hal ini menyebabkan mereka mudah terdifusi dengan kelompok lain.

Salafi Jihadi merupakan pecahan dari dari salafi. Dalam perkembangan selanjutnya mereka cenderung membedakan diri dengan salafi begitu juga sebaliknya.

Perbedaan diantara mereka terletak pada pemahaman bagaimana mewujudkan peradaban Islam. Salafi lebih menyukai cara-cara damai dalam menciptakan peradaban Islam. Sementara Salafi Jihadi menginginkan agar perubahan tersebut dilakukan dengan segera dengan cara-cara revolusioner.

Baik salafi maupun Jihadi sama-sama berasal dari kelompok yang mengusung puritanisme. Namun Salafi Jihadi cenderung tidak sabaran menghadapi penyimpangan-penyimpangan yang ada di sekitar mereka. itu sebabnya mereka melakukan tindakan kekerasan untuk mengekspresikan ketidaksetujuan mereka.

berdasarkan ruang geraknya Salafi Jihadi dibagi 3

  1. Internal. Mereka menjadikan rezim-rezim muslim local yang dinilai tidak menyiarkan agama Islam dan membiarkan terjadinya maksiat
  2. Irredentism, melawan penjajahan negara muslim oleh kekuatan Barat seperti yang terjadi di Afghanistan, Chechny, Kashmir, Mindanao dan Palestina
  3. Global, perlawanannya ditujukan langsung kepada negara-negara Barat yang dianggap bertanggung jawab atas penderitaan umat Islam.

Munculnya salafi Jihadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Awalnya muncul sebagai bentuk perjuangan bersenjata tehadap pemerintah KOlonial. Namun pada decade 1950an dan 1960an perjuangan ini berkembang dalam bentuk baru dan lebih kompleks.

Salafi Jihadi banyak dipengaruhi oleh doktrin JIhadi yang dicetuskan oleh Sayid Qutb, tokoh Ikhwanul Muslimin. Qutb menulis buku Mu’alimin (pedoman) yang berisi pandangannya untuk memerangi rezim pemerintahan yang tidak saleh. Menurutnya sebelum memerangi musuh jauh (Israel), umat Islam harus memerangi dahulu musuh yang dekat (pemerintah Mesir).

Pandangan Qutb ini kemudian mempengaruhi kelompok-kelompok perjuangan Islam. Adanya mobilisasi Jihad ke Afghanistan sewaktu invasi Uni Soviet (1979-1989) memperluas penyebaran pemikiran jihad Qutb. Dari sinilah pemikiran tentang jihad berkembang ke berbagai negara muslim dalam bentuk kelompok-kelompok perjuangan bersenjata.

Referensi: Jurnal “International Crisis Group

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s