Feminis yang Menjadi Perdana Menteri Australia


PERJALANAN Julia Gillard hingga menduduki posisi puncak di dunia perpolitikan Australia cukup terjal dan berbatu. Ketika masuk parlemen pada 1998, perempuan kelahiran Wales ini diperolok karena suara hidungnya, gaya rambutnya, sampai selera berbusana dan keengganannya membina kehidupan berumah tangga.
Akan tetapi, semua ledekan itu tidak membuatnya patah semangat dan mundur. Kini, perempuan yang memutuskan hidup melajang dan tanpa anak itu, bangkit dan membuktikan diri dengan menjadi perdana menteri perempuan pertama Australia.

‘Saya menyadari menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan ini, tetapi saya tidak maju untuk membenturkan kepala ke setiap langit-langit kaca,’ katanya.

Sebelum terpilih menjadi Perdana Menteri Australia pada 24 Juni 2010, Gillard dikenal sebagai seorang pengacara tangguh dan pelopor feminisme yang berjuang menerobos jajaran partai yang berkuasa.

Ketangguhan dan hasrat Gillard untuk membela dirinya sendiri barangkali berasal dari latar belakangnya dari kelas pekerja. Perempuan yang dilahirkan 29 September 1961 ini menjadikan pemimpin Welsh Labour, Nye Bevan, sebagai salah satu pahlawan politiknya.

Masa kecil
Ketika kecil, perempuan berambut merah ini menderita infeksi paru-paru parah, sehingga mendorong orang tuanya, Moira dan John, pindah ke Australia yang memiliki iklim lebih hangat. Mereka memutuskan bergabung dengan ribuan imigran lainnya untuk pindah ke Benua Kangguru itu, dan tiba di Adelaide pada 1966. Ayahnya bekerja sebagai perawat, sementara ibunya memasak di tempat penampungan pengungsi perempuan.

Ketika duduk di bangku SMU, Gillard dikenal berprestasi tinggi dan tidak takut menghadapi laki-laki dalam otoritas. Dia bahkan pernah mengecam guru fisikanya karena lebih mendukung siswa laki-laki.

Sebagai seorang siswa yang selalu mendapatkan nilai A, Gillard melanjutkan pendidikan hukum dan seni di University of Adelaide, dan menjadi figur penting di perpolitikan kampus. Dia ditunjuk sebagai presiden Australian Union Students pada 1983.

Perjalanan kariernya dimulai di sebuah firma hukum terkenal, dengan menjadi mitra Slater and Gordon pada 1990. Namun, dia memutuskan pindah berkecimpung ke dunia politik sebagai kepala staf pemimpin oposisi Victoria, John Brumby.

Butuh tiga kali proses praseleksi bagi Gillard, hingga dia berhasil memenangkan satu kursi parlemen dalam perpolitikan Australia yang didominasi kaum laki-laki. Gillard menjadi wakil perdana menteri setelah kemenangan Kevin Rudd dalam pemilu 2007. Portofolio kerja, hubungan kerja dan pendidikannya, akhirnya membuatnya dijuluki sebagai ‘menteri untuk
semua.’

Seiring kesuksesan yang dicapainya, Gillard terus-menerus diserang karena tidak menikahi pasangannya selama empat tahun, Tim Mathieson, atau pun memiliki anak. Pada 2007, senator Liberal Bill Heffernan menyebutkan sebagai wakil pemimpin yang ‘sengaja mandul,’ dan mengatakan bahwa memiliki anak akan membantunya memahami masyarakat dengan lebih baik.

‘Ada sesuatu dalam diri saya yang terfokus dan single-minded, dan jika saya berkeluarga nanti, saya tidak yakin akan bisa melakukan karier di politik,’ katanya.

sumber: MediaIndonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s