Petualang Cinta Kepulauan Cocos


Kepuluan Cocos atau Keeling merupakan gugusan pulau di Samudra Hindia. Ditemukan pada tahun 1648 oleh Kapten Keeling. Pulau tersebut memiliki peran penting selama Perang Dunia karena disitu terdapat jaringan  kabel telegraf bawah laut dari Eastern Extension Australa and Chinta Telegraph Co. yang terhubung dengan Batavia.

Hingga tahun 1826 kepuluan tersebut masih tidak berpenghuni hingga datang seorang petualang Inggris yang bernama Alexander Hare, usia 46 tahun pada waktu itu. Sebagai seorang petualang dia meiliki banyak pengalaman. Pada usa 20an dia bekerja sebagai klerek di perusahaan Inggris di Portugal, kemudian pindah kerja ke Calcuta. Sekitar 1897 dia tinggal di Malaka menjadi saudagar. Di sana dia berkenalan dengan Stamford Rafles. Kedekatan ini membuatnya memperoleh jabatan Resideen-Comissioner di Banjarmasin. Selama betugas di Banjarmasin, hare mendapat hadia 200 orang budak dari Sultan yang memerintah di Kalimantan Selatan.

Yang menarik dari Hare adalah kebiasaannya mengoleksi perempuan. Kebiasaan ini bermula dari pemberian 200 budak dari Sultan Banjar masin. Hare memilih budak-budak yang paling cantik untuk dijadikan “harem”. Ketika pemerintahan interim Inggris berakhir di Hindia Belanda, Hare pindah ke Jawa dengan membawa serta mooie slavinnen atau budak perempuan yang cantik-cantik.

Kebiasaan “unik” Hare bukan tidak mendapat tentangan. Pada Maret 1819, Hare diusir dari Batavia. Dari Batavia Hare pindah ke Lombok kemudian ke Bengkulu terus ke AFrika Selatan. Di Afrika Selatan dia membeli sebuah pertanian di selatan Kapstaad. Lagi-lagi Hare dipaksa meninggalkan Afrika Selatan setelah para pendeta Gereformeerd mencela kebiasaan Hare berburu budak perempuan di pasar-pasar budak.

Pada tahun 1826, Hare meniggalkan Afrika Selatan menuju kepulauan Cocox. Bersamanya ikut 25 orang laki-laki dan kanak-kanak serta 25 orang perempuan.

Hare mengoleksi budak perempuan dari berbagai suku bangsa. Diantaranya Markina dari Bugis, Sarinten Jagolan dari Sunda, Mariatim dari Timor. Kodarmina dari Papua, Morona dari Basuto dan Nyo An dari Kanton. Budak-budak ini berada di bawah pimpinan Dishta, budak perempuan dari Calcuta. Dishta berperan sebagai “bini tua” yang bertugas mengatur siapa saja yang akan menemani Hare malam itu. Dishta diambil Hare ketika berumur 14 tahun. Waktu itu Dishta bekerja sebagai penari di istana para raja. Hare membelinya dengan harga mahal.

Di kepulauan Cocos mulailah Hare menikmati surga ciptaanya. Hare mempunya kebiasaan unik. Yakni naik perahu bersama-sama ke pantai yang sunyi. Disana mereka berenang dalam keadaan setengah bugil. Setelah puas berenang mereka mencari semak-semak untuk bermesraan dan bercinta dengan perempuan tadi.

Kenikmatan Hare terganggu dengan kedatangan petualang Inggris lainnya, John Clunios-Ross. Ia membawa 120 orang yang terdiri dari buruh pekeja dan bekas budak. Mereka mendirikan dua kampong yakni kampong Melayu dan kampong Bantam. Rombongan Ross ini mulai mengganggu para perempuan Hare. Banyak “peliharaan” Hare ini yang minggat hingga dia hanya punya 4 perempuan dari 14 perempuan yang dipeliharanya. Karena kesal Hare meninggalkan pulau tersebut menuju Bengkulu.

Sepeninggal Hare, Ross mengambil alih pualu tersebut. Keturunannya menjadi penguasa atau “white Raja”. Pada April 1836, Sir Charles Darwin mengadakan penelitian di kepulauan tersebut. Dia menemukan bahwa anak-anak di kepulauan tersebut sangat elok dan sehat. Dia berkesimpulan “ternyata buah kelapa dan penyu bukan makanan yang buruk”.

Di Bengkulu hare berdagang rempah-rempah. Dia mempunyai tangan kanan seorang Batak bernama Hutapea. Ketika pergi ke pedalaman, Hare jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Hutapea menguburkannya di tengah hutan. Hutapea kemudian melaporkan ke Dishta. Dishta meminta untuk tidak menceritakan lebih jauh kabar tersebut. Tinggallah Dishta yang mewarisi peti kayu berisi mata uang, berlian dan perhiasan lain. Dia tidak perlu mengkhawatirkan nasib dirinya.

Referensi: Rosihan Anwar, 2009, Petite Histoir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s