Hikayat Melayu Daun Kopi


Istilah Melayu Daun kopi sebenarnya merupakan ejekan Belanda tehadap orang Minang. Orang Minang mempunyai kebiasaan unik dalam mengkonsumsi kopi. Konon dulu ketika kopi masih baru dibudiyakan di Sumatera Barat, orang-orang lebih memilih menyeduh daun kopi untuk diminum. Kata mereka hal ini sebagaimana kebiasaan orang Arab yang pertama kali membawa tanaman kopi Sumatera Barat. Mereka juga memperhatikan bahwa kambing yang memakan daun kopi terlihat lebih hidup dan gesit.

Namun kopi juga menyimpan cerita pahit dalam sejarah sumatera Barat. Tanah di pedalaman Minangkabau ini dikenal sebagai daerah yang subur karena banyak gunung berapi. Ditambah dengan topografi pegunungan yang dingin sehingga tanahnya cocok untuk budidaya kopi.. pada abad 19 kopi merupakan komoditi yang sangat laris. Tak heran jika pemerintah Hindia Belanda mengandalkan komoditi tersebut sebagai alat pemasukan negara.

Setelah berhasil menaklukkan Sumatera Barat melalui Plakat Pajang (1833), Belanda pun melakukan kebijakan tanam paksanya. Kebijakan tersebut mengharuskan rakyat untuk menanam kopi dan dijual kepada pemerintah dengan harga yang ditentukan sendiri oleh pemerintah. Namun kebijakan tersebut sejak awalnya sudah menimbulkan masalah. Residen Steinmentz yang bertugas di Sumatera Barat, menulis dalam nota rahasianya pada 25 Desember 1846 bahwa kebijakan tanam paksa tidak mungkin berhasil dilaksanakan di masyarakat. dia menulis bahwa rakyat Minang sudah terbiasa bebas dalam menjalankan aktifitas ekonomi, kepemilikan individu sangat terbatas. Tanam paksa mungkin berhasil di Jawa tapi tidak di Sumatera. Di jawa masyarakat sudah terbiasa dengan segala macam paksaan selama berabad-abad hingga penolakan tidak akan menimbulkan pertentangan yang berarti

Perkiraan Steinmetz terbukti, pada awal abad 20 muncul pemberontakan serentak di seluruh Sumatera Barat. Pemicunya apalagi kalau bukan dari kopi

Kebijakan tanam paksa terpaksa dihentikan pada tahun 1908, namun setelah 60 tahun berada dalam kondisi paksaan membawa perubahan dalam kondisi ekonomi masyarakat. setelah tanam paksa dihapus, kewajiban diganti dengan pembayaran pajak individu. Dengan demikian berkembanglah ekonomi uang. Hidup yang dulu statis berubah menjadi lebih dinamis. Orang-orang berjuang untuk memperoleh uang. Hubungan keluarga menjadi lebih longgar. Banyak keluarga yang memilih berdiri sendiri dari pada bergabung bersama beberapa keluarga dalam rumah gadang. Peran ayah lebih dominan atas anaknya. Para penghulu dan pimpinan adat  mulai tidak diakui. Hal ini karena banyak anak-anak dan kemenakan yang sudah memperoleh pendidikan dan lebih pintar.

Sementara pihak Belanda juga dilanda kerugian. Kebijakan tanam paksa ternyata tidak memperoleh keuntungan sama sekali. Di beberapa daerah malah kopi tersebut tidak menghasilkan. Yang terjadi hanyalah pemberontakan. Dan ini berarti ongkos lagi untuk memadamkan pemberontakan.

Demikianlah hikayat melayu daun kopi, sebuah babak dalam sejarah orang Minang semasa penjajahan Belanda. Tidak ada yang diuntungkan dari peristiwa tersebut.

referensi: Rusli Amran, 1984, Sumatera Barat: Plakat Panjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s