Lembaran Hitam RMS


bendera RMS

Pada tahun 1950, Dr. Chris Soumukil memproklamirkan  berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS). RMS kemudian menjadi momok separatis Indonesia. Kemunculannya sebenarnya berkaitan dengan orang-orang pro Belanda yang merasa terancam kedudukan jika Indonesia benar-benar merdeka. Dasar perjuangan yang tidak mengakar menyebabkan republik tersebut tidak bertahan lama dan harus berjuang dari hutan.

Berdirinya RMS tidak lepas dari kondisi politik Negara Indonesia Timur (NIT). Awalnya Presiden NIT, Sukawati, menolak kedatangan TNI dan lebih mempercayai KNIL dalam menjaga keamanan NIT Soumokil yang pada waktu itu menjabat sebagai Jaksa Agung NIT mengerahkan polisi menentang kehadiran TNI di Makasar.

Dr. Soumukil ketika menjadi Jaksa Agung NIT menjatuhkan hukuman mati kepada Monginsidi

Dalam situasi tersebut Soumukil membujuk Kapten Andi Aziz, perwira KNIL yang kemudian bergabung dalam APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat), untuk bergabung dalam pemberontakan. Kapten Andi Aziz yang melihat banyak tentara Ambon yang berkumpul di rumah Soumukil memutuskan untuk melaksankan sendiri kudeta tersebut. Maka pada tanggal 5 April 1950, Andi Aziz menangkap Letkol. TNI A.J. Mokoginta tapi kemudian dibebaskan keesokannya. Akibat perbuatan Andi Aziz, dia mendapat ultimatum dari untuk menyerah sebelum tanggal 11 April pukul 14.00 dan datang melapor ke Jakarta. Namun Andi Aziz terlambat untuk melapor. Tanggal 13 April, Presiden menyatakan Andi Aziz sebagai pemberontak, tanggal 14 April Andi Aziz langsung berangkat ke Jakarta. Di sana dia langsung ditangkap dan dijatuhkan hukuman seumur hidup. Namun kemudian mendapat potongan.

Sebelum berangkat ke Jakarta, Andi Aziz sempat berkunjung ke rumah Soumukil. Disana Soumukil berkata “Jika oze mati, beta akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan”. Setelah itu Soumukil berangkat ke Ambon dan memproklamirkan RMS pada tanggal 23 April. Tidak perlu menunggu waktu lama, Kolonel Alex Kawilarang, komandan APRIS, berhasil menguasai kota Ambon pada 6 November danmendesak Soumukil ke Pulau Seram.. pada tanggal 2 November 1963, Soumukil ditangkap dan dihukum mati pada 22 April 1966.

Laporan Manusama

Mungkin ada yang bertanya apa yang terjadi dengan RMS dan kota Ambon selama dikuasai RMS. Jawaban ini bisa ditemukan pada buku “Istori-Istori Maluku” yang ditulis oleh Tessel Pollmann dan Jean Seleky. Dalam buku tersebut memuat laporan Ir. Manusama. Mengenai Ambon dan RMS. Laporan tersebut dibuat pada September 1952 di Holandia (Jayapura) sebelum pergi ke negeri Belanda.

Laporan tersebut menceritakan kondisi Ambon  pada awal 1950. Pada waktu itu terdapat dua kelompok tentara di Ambon yakni Baretten (Pasukan Baret Hijau) pimpinan Kapten Westerling di Benteng Victoria dan tentara KNIL biasa di Fort Benteng. Kedua tentara ini tidak pernah akur bahkan sering ribu.

KNIL dan Baretten berada dalam kondisi menyedihkan karena disiplin sudah lenyap. Angkatan Perang (AP) RMS yang terdiri dari kelompok ini sungguh sangat menyusahkan RMS. Bahkan RMS sendiri tidak dianggap oleh mereka terutama oleh panglimanya, Samson. Dan Baretten sendiri tidak menghormati pimpinan tentara kecuali komandan mereka sendiri yakni Sersan Nussi dan Kopral Corpatty.

Pada 2 Juni 1950 pasukan TNI masuk melalui sebuah pulau di Maluku Tenggara. Manusama menulis bahwa pada waktu TNI menyerang kota Ambon, tentara BAretten lari terbirit-birit seperti pengecut (laft). Sementara pasukan KNIL walaupun melawan tapi karena tidak punya disiplin bisa dipatahkan TNI. Perlawanan RMS tidak berarti sama sekali bagi TNI.

Dalam situasi tersebut masih terjadi saling tembak diantara RMS sendiri. Kepala staf RMS, Pattiwael, ditembak mati oleh tentara RMS sendiri. Mereka menuduh Pattiwael memberikan perintah yang salah kepada tentara dan hukumannya adalah ditembak mati, disaksikan oleh Manusama.

Siapakah Manusama?

Ir. Manusama merupakan guru matematika pada Sekolah Menengah Teknik (SMT) Jakarta pada zaman Jepang. Sejak 1947 dia menjadi direktur SMA Ambon. Kemetrian Dalam Negeri NIT di Makasar memutuskan mengganti kepala daerah Maluku Selatan, Manuhutu, dengan Manusama.

Namun pergantian tidak jadi dilaksanakan karena pecah pemberontakan militer KNIL dibawah Andi Aziz dan Soumukil. Setelah pemberontakan padam, Soumuki lari ke Ambon. Bersama dengan militer KNIL dan Manusuma, mereka memproklamirkan RMS.

RMS sendiri tidak pernah disetujui oleh kepala Daerah, Manuhutu, dan wakil ketua Dewan Maluku Selatan, Wairisal. Para kepala dinas di Zaid-Molukenraad juga tidak setuju dengan RMS.

Akhirnya kongres kilat diadakan. Pemerintah RMS dibentuk dengan seorang Presiden dan 12 kepala departemen (menteri). Manusama sendiri diangkat sebagai Menteri Pertahanan di pemerintahan orang yang mempunyai pengaruh paing besar adalah Soumukil dan A. Nanloy. Hubungan keduanya gy tidak akur menyebabkan Nanlohy dipecat dan diasingkan ke Irian Barat.

Sebagai Menteri Pertahanan, Manusama tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap KNIL. Setelah RMS ditaklukkan TNI. Manusama bersama istri meninggalkan Seram pada 17 Juni 1952, pergi ke Irian Barat. Kemudian hijrah ke Belanda dan menjadi presiden RMS.

Referensi: Rosihan Anwar, 2009, Petite Histoir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s