Antara Islam Liberal dan Islam Lateral


Prolog

Ada seorang santri di sebuah pesantren di pelosok Jawa Timru. Pesantren tersebut dikelolah oleh seorang kiyai yang cukup terkenal di kawasannya. Sebagai santri dia mengikuti “disiplin” ala santri. Bangun pagi-pagi kemudian dilanjutkan dengan pelajaran, yang biasanya yang menjadi cirikhas adalah pelajaran kitab kuning.

Karena kecerdasannay dia berhasil melanjutkan pendidikan samapi ke tingkat perguruan tinggi. Di sana dia berkenalan dengan peikiran Karl Marx, Lenin, Aristotel, Sigmeund Freud dan berbagai tokoh filsafat politik barat lainnya. Dia mulai berubah menjadi orang yang menjunjung tinggi logika.

Sikapnya yang vocal dalam mengusung pluralism mendapatkan perhatian sehingga dia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Kembali ke Indonesia menjadi dosen yang aktif menyuarakan apa yang didapatkan dari kampusnya. Umumnya berkenaan dengan pluralism, demokrasi, dan pemikiran liberal lainnya. Dia semakin kritis terhadap agama bahkan sikap taklid yang dulu pernah dia lakukan. Biasanya mereka bekerja sebagai pendidik atau penulis yang sangat concern terhadap karir akademik mereka. mereka ini dikenal dengan Islam liberal yang sebagiaan besar tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dikomandoi oleh Ulil Absar Abdal.

Di sisi lain ada seorang pemuda yang memperoleh pendidikan di jalur formil. Kehidupan agama keluarganya relative biasa saja. Bahkan cenderung kea rah kebathinan. Dia berhasil memperoleh pendidikan di perguruan tinggi ternama. Selama kuliah ini lah dia mulai mendapat pemahaman Islam melalui lembaga aktifis dakwah kampus. Kesadaran beragamanya tumbuh bahkan cenderung sangat bersemangat.

Merasa tidak puas dengan apa yang didapatkan di kampus dia kemudian mencari guru lain. Dia bergabung dengan kelompok pengajian “remang-remang” yang suka memencilkan diri. Disini dia diajarkan untuk membenci Barat sebagai biang keladi kehancuran umat Islam. Jihad diperkenalkan sebagai jalan keluar. Dan mulailah dia terlibat dalam aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Dikotomi menyesatkan

Dua ilustrasi diatas seolah-olah menggambarakan realitas umat Islam saat ini. Dan memang seperti itulah yang beruasha ditekankan oleh Barat, Islam liberal atau lateral. Islam liberal yang memiliki pemahaman yang inklusif, terbuka, dan moderat terhadap perbedaan. Berusaha memahami Islam dari sisi logika. Sementara Islam lateral yang bersifat tertutup, kolot dank eras yang berusaha memahami Islam secara kontekstual.

Disadari atau tidak kita sudah masuk dalam permainan devide et impera untuk melemahkan negara-negara muslim. Umat Islam sengaja dibenturkan dengan pemahaman bahwa pemahaman Islam itu hanya ada dua dan kita dipaksa untuk memilih untuk berada diantara dua kondisi tersebut.

Padahal Islam sebagai agama rahmatan lil alamin seharusnya mampu memberikan kedamaian bagi semua tidak hanya bagi muslim. Munculnya dua dikotomi diatas karena rendahnya pemahaman umat terhadap ranah-ranah yang bersifat prinsipil dengan fleksibel. Hal-hal yang bersifat aqidah berusaha dilogikan menurut akal, sehingga ketika terjadi benturan maka kemauan akallah yang diutamakan. Begitu juga dengan hal-hal yang bersifat muamallah yang seharusnya disesuaikan dengan ruang dan waktu berusaha dipahami menurut apa yang tersurat sehingga terjadi benturan dengan kondisi kekinian. Serangkaian pemaksaan justru akan menghilangkan simpati dan berakibat pada hilangnya minat orang untuk mempelajari Islam apalagi untuk hidup sesuai dengan ajaran Islam. Sementara pemikiran liberal jika tidak diikuti oleh pemahaman yang mendalam justru dapat berakibat penyesatan dan penyelewengan aqidah.

Sudah saatnya setiap orang yang mengaku beragama Islam, walaupun pemahaman berbeda, untuk belajar saling memahami dan menghormati perbedaan yang ada. Bukankah perbedaan itu adalah sunnatullah (ketentuan Allah SWT) maka sudah sepatutnya kita menghargai perbedaan itu. Dan bukankah Rasulullah SAW ketika dipaksa oleh kafir Quraisy berkata lakum dinukum wa liyadin (bagimu agama mu dan bagiku agamaku). Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai pentingnya sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan pandangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s