Antara Kota Gede dan Koto Gadang


Secara harfiah dua kata ini memiliki makna yang sama,, kota besar. Kesamaan diantara keduanya tidak hanya masalah nama tapi pera yang mereka miliki dalam sejarah Indonesia.

Kota Gede merupakan desa perdikan di Yogyakarta. Desa perdikan merupakan desa khusus tempat pemakaman keluarga kerajaan. Disamping berfungsi sebagai kompleks pemakaman keluarga raja, desa perdikan juga berfungsi sebagai lembaga penddiidkan agama karena disana terdapat pesantren.

Di Kota Gede terdapat makam Senopati, pendiri Mataram, serta makam keluarga kesultanan Yogyakarta dan Surakarta. Bagi masyarakat Jawa makam tesebut merupakan tempat sacral yang ramai diziarahi tiap tahun. Lambat laun Kota Gede berkembang dan bermunculanlah industry terutama kerajinan emas dan perak dan menajdi salah satu pusat ekonomi Yogyakarta.

Menarik juga membandingkan Kota Gede dengan Kota Gadang. Koto Gadang merupakan sebuah desa yang terletak beberapa kilometer dari kota Bukittinggi. Desa ini cukup maju, bahkan begitu majunya hingga tidak ada lagi warganya yang bekerja sebagai petani kecuali beberapa orang saja. Hal ini ditopang oleh industry kerajinan emas dan perak yang juga dimiliki oleh Koto Gadang.

Munculnya industry kerajinan emas dan perak di Koto Gadang juga dimulai dari banyaknya para peziarah. Tidak jauh dari Koto Gadang terdapat makam Tuanku Malim Kaji di sebuah bukit yang bernama Guguk Bulek. Makam tersebut dikeramatkan oleh masyarakat Luhak nan Tigo.

Keutamaan dua daerah ini bukan terletak pada makam keramat atau industry emas dan perak yang mereka miliki tapi kontribusi intelektual yang mereka berikan. Kota gede sebagai desa perdikan banyak melahirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang terkenal denga ide pembaharuannya. Mereka dikenal sangat anti feudal, meskipun begitu mereka mampu mempertahankan posisi sebagai desa perdikan.

Sementara masyarakat Koto Gadang dikenal sangat pandai memanfaatkan peluang. Ketika Belanda membuka sekolah negeri, beramai-ramailah masyarakat Koto Gadang menyekolahkan anaknya di sana. Sehingga banyak anak-anak Koto Gadang yang direkrut menjadi pegawai pemerintah. Karena pendidikan pula banyak tokoh nasional yang berdarah Minang berasal dari sini. Haji Agus Salim dan Muhammad Hatta merupakan segelintir contoh orang Koto gadang yang memberikan peran bagi Republik ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s